MANUSIA DAN KEADILAN
By : Praditya IvanWASIT
Setiap Manusia pasti ingin diperlakukan secara adil entah dari masalah pekerjaan, permainan atau pribadi. Foto diatas adalah salah satu orang yang harus bersikap adil dilapangan yaitu Wasit.
Wasit adalah orang yang menentukan jalannya pertandingan dan harus bersikap adil. entah itu pada saat pemain sedang melanggar peraturan, menyelengkat kaki lawan dll.
Wasit juga harus bisa melihat kondisi apakah pelanggaran yang dilakukan itu harus mendapat kartu kuning,merah atau tidak mendapat kartu. pleh karna itu wasit harus adil agar para pemain tidak merasa kecewa karna wasit merupakan peran penting dilapangan jika wasit mengatakan pelanggaran maka pelanggaran, atau bisa dibilang Keputusan Wasit Adalah Mutlak. oleh karna itu Wasit Harus Adil.
Setiap Manusia pasti ingin diperlakukan secara adil entah dari masalah pekerjaan, permainan atau pribadi. Foto diatas adalah salah satu orang yang harus bersikap adil dilapangan yaitu Wasit.
Wasit adalah orang yang menentukan jalannya pertandingan dan harus bersikap adil. entah itu pada saat pemain sedang melanggar peraturan, menyelengkat kaki lawan dll.
Wasit juga harus bisa melihat kondisi apakah pelanggaran yang dilakukan itu harus mendapat kartu kuning,merah atau tidak mendapat kartu. pleh karna itu wasit harus adil agar para pemain tidak merasa kecewa karna wasit merupakan peran penting dilapangan jika wasit mengatakan pelanggaran maka pelanggaran, atau bisa dibilang Keputusan Wasit Adalah Mutlak. oleh karna itu Wasit Harus Adil.
MANUSIA DAN PENDERITAAN
By : Praditya Ivan
MANUSIA DAN PENDERITAAN
Semua Manusia Pasti pernah merasakan penderitaan. seperti contoh diatas seorang wanita yang sudah cukup berumur berpanas panasan dijalan hanya untuk mencari rezeki. bisa kita bayangkan ibu itu seharusnya menikmati masa tua nya dengan duduk dirumah dan menunggu anaknya yang sedang bekerja pulang. Tapi ibu itu malah sebaliknya dia berpanas panasan di usianya yang terbilang sudah tidak muda lagi untuk mencari sesuap nasi. Betapa malangnya nasib ibu ini menderita dijalanan.
MANUSIA DAN KEINDAHAN
By : Praditya Ivan
MENYATU DENGAN ALAM
Foto diatas adalah tentang keindahan Alam yang bisa kita manfaatkan menjadi Wisata sewaktu Liburan. sehingga kita bisa merasa senang seolah olah menyatu dengan alam karna itu kita dapat lebih menikmati keindahan alam dengan cara lebih membaur dengan alam.
Di indonesia banyak keindahan alam seperti kawah gunung, air terjun dll. Tapi ada juga keindahan bawah laut seperti foto diatas. Seharusnya masyarakat indonesia bisa melestarikannya bukan malah merusaknya. karna menurut saya aspek keindahan dapat indah karna manusialah yang menjaganya. jika manusia tidak menjaga malah merusaknya seperti mengambil ikan dengan bahan kimia, merusak terumbu karang dan lain lain. akan mengakibatkan aspek keindahan yang dimiliki oleh alam tersebut rusak. jadi manusia berpengaruh atas keindahan Alam disekitar maksudnya adalah Manusia dan Keindahan Alam Menyatu jika manusianya rusak maka alam pun ikut rusak.
MANUSIA DAN CINTA KASIH
By : Praditya Ivan
IBU
setiap manususia memiliki perasaan kasih dan sayang entah itu kepada keluarga, sahabat, teman ataupun pacar. tapi orang yang saya cintai bukan pacar saya (Jomblo :( wkwk) tapi adalah ibu saya.
bagi saya ibu adalah segalanya. Alasan mengapa saya mencintai, menyayangi ibu? Tidak, tidak ada alasan mengapa saya sangat mencintai ibu.
oh maaf Sebenarnya ada satu alasan yaitu karna saya CINTA ibu saya.
Ada Pepatah yang mengatakan surga berada dibawah telapak kaki ibu. Ya saya setuju karna jika saya bayangkan ibu saya rela berkorban tanpa ada habisnya. sewaktu bapak saya mencari kerja beliau juga membantu, saat dirumah beliau juga melakukan tugas rumah. lihat betapa mulianya seorang ibuku ini. dia berjuang tanpa lelah Bekerja untuk membiayai sekolah anak anak nya.
Wajar saja jika ada pepatah yang mengatakan seperti itu karna memang dimataku ibuku adalah seorang pahlawan yang sangat amat mulia. Bahkan pada saat saya sedang mengerjakan tugas ini baru saja ibu saya memanggil saya, menuruh saya untuk makan :) .
Terimakasih ibu engkau sudah bersedia merepotkan dirimu untuk aku.
Tapi Saya belum bisa membahagiakan ibu saya ( Tugas Sekalian Curhat wkwkwk) karna saya masih belum bisa memenuhi apa yang ibu saya minta tapi suatu hari nanti saya akan memenuhinya jadi Ya ALLAH Panjang kanlah umur Orangtua hamba IBU hamba orangtua hamba aamiin.
karna saya ingin membahagiakan mereka terutama ibu hamba yang melahirkan saya, membesarkan saya. bahkan saya sangat ingat ketika ibu saya menggendong saya meskipun saya sudah kelas 3 SD. saya masih ingat kasih sayang yang ibu berikan karna saya yakin kasih ibu sepanjang masa. Banyak pengorbanan yang ia lakukan hanya demi saya bahkan yang paling saya ingat ketika ibu saya menunggu saya didepan kamar mandi ketika saya buang air besar. Seluruh pengorbanan ibu tidak akan terbalaskan oleh apapun meskipun nanti saya bisa memenuhi keinginannya. Karna itu saya (Praditya Achmad Ifandi ) Amat Sangat Mencintai dan menyayangi ibu saya.
THANKS MOM
bagi saya ibu adalah segalanya. Alasan mengapa saya mencintai, menyayangi ibu? Tidak, tidak ada alasan mengapa saya sangat mencintai ibu.
oh maaf Sebenarnya ada satu alasan yaitu karna saya CINTA ibu saya.
Ada Pepatah yang mengatakan surga berada dibawah telapak kaki ibu. Ya saya setuju karna jika saya bayangkan ibu saya rela berkorban tanpa ada habisnya. sewaktu bapak saya mencari kerja beliau juga membantu, saat dirumah beliau juga melakukan tugas rumah. lihat betapa mulianya seorang ibuku ini. dia berjuang tanpa lelah Bekerja untuk membiayai sekolah anak anak nya.
Wajar saja jika ada pepatah yang mengatakan seperti itu karna memang dimataku ibuku adalah seorang pahlawan yang sangat amat mulia. Bahkan pada saat saya sedang mengerjakan tugas ini baru saja ibu saya memanggil saya, menuruh saya untuk makan :) .
Terimakasih ibu engkau sudah bersedia merepotkan dirimu untuk aku.
Tapi Saya belum bisa membahagiakan ibu saya ( Tugas Sekalian Curhat wkwkwk) karna saya masih belum bisa memenuhi apa yang ibu saya minta tapi suatu hari nanti saya akan memenuhinya jadi Ya ALLAH Panjang kanlah umur Orangtua hamba IBU hamba orangtua hamba aamiin.
karna saya ingin membahagiakan mereka terutama ibu hamba yang melahirkan saya, membesarkan saya. bahkan saya sangat ingat ketika ibu saya menggendong saya meskipun saya sudah kelas 3 SD. saya masih ingat kasih sayang yang ibu berikan karna saya yakin kasih ibu sepanjang masa. Banyak pengorbanan yang ia lakukan hanya demi saya bahkan yang paling saya ingat ketika ibu saya menunggu saya didepan kamar mandi ketika saya buang air besar. Seluruh pengorbanan ibu tidak akan terbalaskan oleh apapun meskipun nanti saya bisa memenuhi keinginannya. Karna itu saya (Praditya Achmad Ifandi ) Amat Sangat Mencintai dan menyayangi ibu saya.
THANKS MOM
PRASANGKA DISKRIMINASI DAN ETNOSENTRISME
By : Praditya Ivan1. PERBEDAAN PRASANGKA DAN DISKRIMINASI
Namun demikian belum jelas benar ciri ciri kepribadian mana yang membuat seseorang mudah berprasangka. mengapa? Karena orang macam ini bersifat dan bersikap kritis.sesorang yang mempunyai prasangka rasial , biasanya bertindak diskriminasi terhadap ras yang diprasangkainya. Cina sebgai kelompok minoritas, sering menjadi sasaran rasial, walaupun secara yuridis telah menjadi warga negara indonesia.
Sikap berprasangka jelas tidak adil sebab sikap yang diambil hanya berdasarkan pada pengalaman atau apa yang didengar. lebih lebih lagi bila sikap berprasangka itu muncul dari jalan fikiran sepintas.
1.1. SEBAB-SEBAB TIMBULNYA PRASANGKA DAN DISKRIMINASI
a.
Berlatar belakang sejarah
Orang-orang
kulit putih Amerika Serikat berprasangka negatif terhadap orang-orang Negro,
berlatar
belakang pada sejarah masa lampau, bahwa orang-orang kulit putih
sebagai tuan dan orang-orang
Negro berstatus sebagai budak.
b.
Dilatarbelakangi oleh perkembangan
sosio-kultural dan situasional
Suatu
prasangka muncul dan berkembang dari suatu individu terhadap individu lain,
atau terhadap
kelompok sosial tertentu manakala terjadi penurunan status atau
terjadi Pemutusan Hubungan Kerja
(PHK) oleh pimpinan Perusahaan terhadap
karyawannya.
c.
Bersumber dari faktor kepribadian
Keadaan
frustasi dari beberapa orang atau kelompok sosial tertentu merupakan kondisi
yang cukup
untuk menimbulkan tingkah laku agresif.
d.
Berlatar belakang dari perbedaan keyakinan,
kepercayaan dan agama
Bisa ditambah
lagi dengan perbedaan pandangan politik, ekonomi dan ideologi. Prasangka yangberakar dari hal-hal tersebut di atas dapat dikatakan sebagai suatu prasangka yang bersifat universal.
1.2. DAYA UPAYA UNTUK MENGURANGI/MENGHILANGKAN PRASANGKA DAN
DISKRIMINASI
a.
Perbaikan kondisi sosial ekonomi
Pemerataan
pembangunan dan usaha peningkatan pendapatan bagi warga Negara Indonesia yang
masih tergolong di bawah garis kemiskinan akan mengurangi adanya
kesenjangan-kesenjangan sosial antar si kaya dan si miskin.
b.
Perluasan kesempatan belajar
Adanya
usaha-usaha pemerintah dalam perluasan kesempatan belajar bagi seluruh
warganegara Indonesia, paling tidak dapat mengurangi prasangka bahwa program
pendidikan, terutama pendidikan tinggi hanya dapat dinikmati oleh kalangan
masyarakat menengah dan kalangan atas.
c. Sikap terbuka dan sikap lapang
Harus selalu
kita sadari bahwa berbagai tantangan yang datang dari luar ataupun yang datang
daridalam negeri.
2. ETNOSENTRISME
Setiap suku bangsa atau ras tertentu akan memiliki ciri khas kebudayaan, yang sekaligus menjadi kebangaan mereka. Suku bangsa, ras tersebut dalam kehidupansehari hari bertingkah laku sejalan dengan norma-norma, nilai-nilai yang terkandung dan tersirat dalam kebudayaan. Suku Bangsa tersebut menganggap kebudayaan mereka sekaligus sebagai salah satu yang prima, riil, logis sesuai dengan kodrat alam dan sebaginya. hal hal tersebut dikenal sebagai ETNOSENTRISME, Yaqitu kecenderungan yang menggangap nilai dan norma norma kebudayaannya sendiri sebagai tolak ukur untuk menilai dan membedakannya dengan kebudayaan lain.
Etnosentrisme nampaknya merupakan gejala sosial yang universal, dan sikap yang demikian biasanya dilakukan secara tidak sadar.dengan demikian etnosentrisme mrupakan kecenderungan tak sadar untuk mengiterpresikanatau menilai kelompok lain dengan tolak ukur kebudayaannyasendiri.Sikap etnosentrisme dalam tingkah laku agak canggung, tidak luwes.akibatnya etnosentrisme penampilan yang etnosentrik.
AGAMA DAN MASYARAKAT
By : Praditya Ivan
Mind Map
AGAMA DAN MASYARAKAT
Kaitan agama dengan masyarakat banyak dibuktikan oleh pengetahuan agama yang meliputi oleh pengetahuan agama yang meliputi penulisan sejarah dan figur nabi dalam mengubah kehidupan, tentang Tuhan
dan kesadaraan akan maut menimbulkan religi, dan sila Ketuhanan Yang Maha Esa
sampai pada pengalaman agamanya para tasauf.
Peraturan agama dalam masyarakat penuh dengan hidup, menekankan pada hal hal yang normatif atau menunjuk kepada hal hal hal yang sebaiknya dan seharusnya dilakukan.
1. FUNGSI AGAMA
Untuk mendiskusikan fungsi agama dalam masyarakat ada tiga aspek penting yang harus selalu dipelajari, yaitu kebudayaan, sistem sosial, dan kepribadian. ketiga aspek tersebut merupakan kompleks fenomena sosial terpadu yang pengaruhnya dapat diamati dalam perilaku manusia.
Toeri fungsional dalam melihat kebudayaan pengertiannya adalah, bahwa kebudayaan itu berwujud suatu
kompleks dari ide-ide, gagasan, niali-nilai, norma-norma, peraturan dan sistem sosial yang terdiri dari
aktivitas-aktivitas manusia-manusia yang berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan lain, setiap
saat mengikuti pola-pola tertentu berdasarkan adat tata kelakuan, bersifat kongkret terjadi di sekeliling.
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana masalah fungsional dalam konteks teori fungsional
kepribadian dan sejauh mana agama mempertahankan keseimbangan pribadi melakukan fungsinya.
Kepribadian dalam hal ini merupakan suatu dorongan, kebutuhan yang kompleks, kecenderungan bertindak,
dan memberikan tanggapan serta nilai dan sebagainya yang sistematis.
Teori fungsionalisme melihat agama sebagai penyebab sosial yang dominan dalam terbentuknya lapisan sosial, perasaan agama, dan termasuk konflik sosial. Agama dipandang sebagai lembaga sosial yang menjawab kebutuhan mendasar yang dapat dipenuhi kebutuhan nilai-nilai duniawi.
Jadi, Seorang fungsionalis memandang agama sebagai petunjuk bagi manusia untuk mengatasi diri dan ketidakpastian, ketidakberdayaan, dan kelangkaan dan agama dipandang sebagai mekanisme penyesuaian yang paling dasar terhadap unsur-unsur tersebut.
Fungsi agama dalam pengukuhan nilai nilai, bersumber pada kerangka acuan yang bersifat sakral, maka normanya pun dikukuhkan dengan sanksi sanksi sakral.
Fungsi agama dibidang sosial adalah fungsi penentu. dimana agama menciptakan suatu ikatan bersama, baik diantara anggota masyarakat maupun dalam kewajiban sosial yang membantu mempersatukan mereka
Fungsi agama sebagai sosialisasi individu ialah individu, pada saat dia menjadi dewasa memerlukan suatu sistem nilai sebagai semacam tuntunan umum untuk (mengarahkan) aktifitasnya dalam masyarakat, dan berfungsi sebagai tujuan akhir pengembangannya
Masalah Fungsionalisme agama dapat dianalisis lebih mudah pada komitmen agama. dimensi komitmen agama, menurut Roland Robertson (1984), diklasifikasikan berupa keyakinan, Praktek, pengalaman,pengetahuan dan konsekuensi.
A. Dimensi keyakinan mengandung perkiraan atau harapan bahwa orang yang religius menganut pandangan
teologis tertentu.
B.Praktek Agama mencakup perbuatan perbuatan memuja dan berbakti, yaitu perbuatan untuk
melaksanakan komitmen agama secara nyata.
C. Dimensi Pengalaman memperhitungkan fakta, bahwa semua agama mempunyai perkiraan tertentu
D. Dimensi pengetahuan dikaitkan dengan perkiraan, bahwa orang - orang yang bersikap religius akan
memiliki informasi ajaran pokok keyakinan dan upacara keagamaan, kitab suci, dan tradisi keagamaan
mereka
E. Dimensi konsekuensi dari komitmen religius berbeda dengan tingkah laku perseorangan dan pembentukan
citra pribadinya.
2. PELEMBAGAAN AGAMA
Agama begitu universal, permanen (langgeng), dan mengatur dalam kehidupan, sehingga bila tidak
memahami agama, akan sukar memahami masyarakat.
Kaitan agama dengan masyarakat dapat mencerminkan tiga tipe, meskipun tidak menggambarkan
sebenarnya secara utuh (Elizabeth K. Nottingham, 1954).
A. Masyarakat yang Terbelakang dan Nilai-Nilai yang Sakral
Masyarakat tipe ini kecil, terisolasi, dan terbelakang. Anggota masyarakat menganut agama yang
sama.Oleh karenanya keanggotaan mereka dalam masyarakat dan dalam kelompok keagamaan adalah
sama.
B. Masyarakat-Masyarakat Praindustri yang Sedang Berkembang
Keadaan masyarakatnya tidak terisolasi, ada perkembangan teknologi yang lebih tinggi dari pada tipe
pertama. Agama memberikan arti dan ikatan kepada sistem nilai dalam tiap masyarakat ini, tetapi pada
saat yang sama lingkungan yang sakral dan yang sekular itu sedikit banyaknya masih dapat dibedakan.
Pendekatan rasional terhadap agama dengan penjelasan ilmiah biasanya akan mengacu dan berpedoman
pada tingkah laku yang sifatnya ekonomis dan teknologis, dan tentu kurang baik.
Bila sifat rasional penuh dalam membahas agama yang ada pada manusia, maka berarti bersifat
nonagama. Karena itu pendekatan dalam memandang agama hanya sebagai suatu
gejala (fenomena)
atau kejadian. Ilmuwan yang menganut pandangan ini, juga
akhirnya kecewa mengetahui adanya
manusia dengan sifat nonrasional mutlak atau
terus-menerus nonrasional.
Bermula dari para ahli
agama yang mempunyai pengalaman agama dan adanya fungsi deferesiasi internal
dan stratifikasi yang ditimbulkan oleh perkembangan agama, maka tampillah
organisasi keagamaan yang terlembaga dan fungsinya adalah mengolah masalah
keagamaan.
Masyarakat industri
bercirikan dinamika dan semakin berpengaruh terhadap semua aspek
kehidupan, sebagian
besar penyesuaian-penyesuaian terhadap alam fisik, tetapi yang penting adalah
penyesuaian-penyesuaian dalam hubungan-hubungan kemanusiaan sendiri.
Pada umumnya
kecenderungan sekularisasi mempersempit ruang gerak kepercayaan-
kepercayaan dan
pengalaman-pengalaman keagamaan yang terbatas pada aspek yang lebih kecil
dan
bersifat khusus dalam kehidupan masyarakat dan anggota-anggotanya.
Pernyataan diatas
menimbulkan pertanyaan, apakah masyarakat sekular akan mampu secara
efektif
mempertahankan ketertiban umum tanpa kekerasaninstitusional apabilah pengaruh
agama
telah semakin berkurang.
ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI DAN KEMISKINAN
By : Praditya Ivan
ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI DAN KEMISKINAN
Ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemiskinan merupakan
bagian-bagian yang tidak dapat dibebaskan dan dipisahkan dari suatu sistem yang
berinteraksi,interelasi, interdependensi, dan ramifikasi (percabangannya). Pengertian
ilmu itu tersusun dari pengetahuan secara teratur, yang diperoleh dengan
pangkal tumpuan (objek) tertentu dengan sistematis, metodis, rasional/logis,
empiris, umum, dan akumulatif.
Sedangkan pengertian pengetahuan menurut pandangan
Aristoteles merupakan hal yang dapat diinderai dan dapat merangsang budi.
Sehingga ilmu dan pengetahuan dapat diartikan sebagai pengalaman indera dan
batin. Kemiskinan merupakan tema sentral dari perjuangan bangsa, sebagai
perjuangan yang akan memperoleh kemerdekaan bangsa dan motivasi fundamental
dari cita-cita menciptakan masyarakat adil dan makmur.
1) Ilmu
Pengetahuan
Pengertian pengetahuan sebagai istilah filsafat tidaklah sederhana karena
bermacam-macam pandangan dan teori (epistemologi), diantaranya pandangan
Aristoteles, bahwa pengetahuan merupakan pengetahuan yang dapat diinderai dan
dapat merangsang budi. Menurut Decartes ilmu pengetahuan merupakan serba budi;
oleh Bacon dan David Home diartikan sebagai pengalaman indera dan batin;
menurut Immanuel Kant pengetahuan merupakan persatuan antara budi dan
pengalaman; dan teori Phyroo mengatakan, bahwa tidak ada kepastian dalam
pengetahuan.
Banyaknya teori dan pendapat tentang pengetahuan dan kebenaran mengakibatkan
suatu definisi ilmu pengetahuan akan mengalami kesulitan. Sebab, membuat suatu
definisi dari definisi ilmu pengetahuan yang dikalangan ilmuwan sendiri sudah
ada keseragaman pendapat, hanya akan terperangkap dalam tautologies
(pengulangan tanpa membuat kejelasan) dan pleonasme atau mubazir saja.
Untuk mencapai suatu pengetahuan yang ilmiah dan objektif diperlukan sikap yang
bersifat ilmiah. Sikap yang bersifat ilmiah itu meliputi empat hal :
a. Tidak ada
perasaan yang bersifat pamrih sehingga mencapai pengetahuan ilmiah yang
objektif.
b. Selektif,
artinya mengadakan pemilihan terhadap problema yang dihadapi supaya didukung
oleh fakta atau gejala, dan mengadakan pemilihan terhadap hipotesis yang ada.
c.
Kepercayaan yang layak terhadap kenyataan yang tak dapat diubah maupun terhadap
alat indera dan budi yang digunakan untuk mencapai ilmu.
d. Merasa
pasti bahwa setiap pendapat, teori, maupun aksioma terdahulu telah mencapai
kepastian, namun masih terbuka untuk dibuktikan kembali.
2) Teknologi
Dalam konsep yang pragmatis dengan kemungkinan berlaku secara akademis dapatlah
dikatakan, bahwa ilmu pengetahuan ( body of knowledge ), dan teknologi sebagai
suatu seni ( state of art ) yang mengandung pengertian berhubungan dengan
proses produksi; menyangkut cara bagaimana berbagai sumber, tanah, modal,
tenaga kerja dan keterampilan dikombinasikan untuk merealisasi tujuan produksi.
Teknologi memperlihatkan fenomenanya dalam masyarakat sebagai hal impersonal
dan memiliki otonomi mengubah setiap bidang kehidupan manusia menjadi lingkup
teknis.
Fenomena teknik pada masyarakat kini, menurut Sastrapratedja ( 1980 ) memiliki
ciri-ciri sebagai berikut :
a.
Rasionalitas, artinya tindakan spontak oleh teknik diubah menjadi tindakan yang
direncanakan dengan perhitungan rasional.
b. Artifisialitas,
artinya selalu membuat sesuatu yang buatan tidak alamiah.
c.
Otomatisme, artinya dalam hal metode, organisasi dan rumusan dilaksanakan serba
otomatis.
d. Teknis
berkembang pada suatu kebudayaan.
e. Monisme,
artinya semua teknik bersatu, saling berinteraksi dan saling bergantung.
f.
Universalisme, artinya teknik melampaui batas-batas kebudayaan dan ediologi,
bahkan dapat menguasai kebudayaan.
g. Otonomi,
artinya teknik berkembang menurut prinsip-prinsip sendiri.
Luasnya bidang teknik, digambarkan oleh Ellul sebagai berikut :
1. Teknik
meliputi bidang ekonomi, artinya teknik mampu menghasilkan barang-barang
industri.
2. Teknik
meliputi bidang organisasi seperti administrasi, pemerintahan, manajemen, hukum
dan militer.
3. Teknik
meliputi bidang manusiawi, seperti pendidikan, kerja, olahraga, hiburan dan
obat-obatan.
Teknik-teknik manusiawi yang dirasakan pada masyarakat teknologi, terlihat dari
kondisi kehidupan manusia itu sendiri.
Dampak teknik itu sendiri bagi manusia sudah dirasakan dan fenomenanya nampak.
Seperti, anggapan para ahli teknik bahwa manusia hanyalah mitos abstrak,
manusia mesin ( manusia mengadaptasikan diri kepada mesin ), penerapan teknik
memecah belah manusia ( tidak ada kesempatan mengembangkan kepribadiannya ),
timbul kemenangan pada alam tak sadar, simbol-simbol tradisional diganti dengan
teknik, terbentuknya manusia-massa ( gaya hidup dibentuk oleh iklan ) dan
nampak teknik sudah mendominasi kehidupan manusia secara menyeluruh.
Saat ini sudah dikonstantasi, bahwa negara-negara teknologi maju telah memasuki
tahap superindustrialisme, melalui inovasi teknologis tiga tahap :
a) Ide
kreatif
b) Penerapan
praktisnya
c) Difusi
atau penyebarluasan dalam masyarakat.
3) Ilmu
Pengetahuan Teknologi dan Nilai
Penerapan ilmu pengetahuan khusunya teknologi sering kurang memperhatikan
masalah nilai, moral atau segi-segi manusiawinya.
Masalah nilai kaitannya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi ini, menyangkut
perdebatan sengit dalam menduduk perkarkan nilai dalam kaitannya dengan ilmu
dan teknologi. Sehingga kecenderungan sekarang ada dua pemikiran yaitu : yang
menyatakan ilmu bebas nilai dan yang menyatakan ilmu tidak bebas nilai.
Ilmu dapatlah dipandang sebagai produk, sebagai proses, dan sebagai paradigma
etika ( Jujun S. Suriasumantri, 1984 ).
Apa yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan seperti sekarang ini, merupakan hasil
penalaran ( rasio ) secara objektif. Ilmu sebagai produk artinya ilmu diperoleh
dari hasil metode keilmuwan yang diakui secara umum dan universal sifatnya.
Istilah ilmu di atas, berbeda dengan istilah pengetahuan. Ilmu adalah diperoleh
melalui kegiatan metode ilmiah atau epistemologi. Jadi, epistemologi merupakan
pembahasan bagaimana mendapatka pengetahuan. Metode ilmiah adalah kegiatan
menyusun tubuh pengetahuan yang bersifat logis, penjabaran hipotesis dengan
deduksi dan verifikasi atau menguji kebenarannya secara faktual; Sehingga
kegiatannya disingkat menjadi logis-hipotesis-verifikasi atau
deduksi-hipotesis-verifikasi. Sedangkan pengetahuan adalah pikiran atau
pemahaman di luar atau tanpa kegiatan metode ilmiah, sifatnya dapat dogmatis,
banyak spekulasi dan tidak berpijak pada kenyataan empiris.
Ilmu pengetahuan pada dasarnya memiliki tiga komponen penyangga tubuh
pengetahuan yang disusunnya yaitu : ontologis, epistemologis dan aksiologis.
Epistemologis seperti diuraikan di muka, hanyalah merupakan cara bagaimana
materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi tubuh pengetahuan. Ontologis
dapat diartikan hakikat apa yang dikaji oleh pengetahuan, sehingga jelas
ruang lingkup wujud yang menjadi objek penelaahannya. Komponen Aksiologis
adalah asas menggunakan ilmu pengetahuan atau fungsi dari ilmu pengetahuan.
Komponen ontologis kegiatannya adalah menafsirkan hikayat realitas yang ada,
sebagaimana adanya ( das sein ), melalui desuksi-desuksi yang dapat diuju
secara fisik.
Komponen epistemologis berkaitan dengan nilai atau moral pada saat proses
logis-hipotesis-verifikasi.
Komponen aksiologis artinya lebih lengket dengan nilai atau moral, di mana ilmu
harus digunakan dan dimanfaatkan demi kemaslahatan manusia.
Pembicaraan selanjutnya adalah kaitan teknologi dan nilai. Namun sebelumnya,
perlu menelusuri kaitan ilmu dan teknologi sebelum memahami kaitan teknologi
dan nilai. Seperti kita maklumi, selain ilmu dasar ada juga ilmu terapan.
Tujuan ilmu terapan ini adalah untuk membantu manusia dalam memecahkan
masalah-masalah praktis, sekaligus memenuhi kebutuhannya.
Kaitan ilmu dan teknologi dengan nilai atau moral, berasal dari ekses penerapan
ilmu dan teknologi sendiri. Dalam hal ini sikap ilmuwan dibagi menjadi dua
golongan :
1) Golongan
yang menyatakan ilmu dan teknologi adalah bersiat netral terhadap nilai-nilai
baik secara ontologism maupun secara aksiologis, soal penggunaannya terserah
kepada si ilmuwan itu sendiri, apakah digunakan untuk tujuan baik atau tujuan
buruk.
2) Golongan
yang menyatakan bahwa ilmu dan teknologi itu bersifat netral hanya dalam
batas-batas metafisik keilmuwan, sedangkan dalam penggunaan dan penelitiannya
harus berlandaskan pada asas-asas moral atau nilai-nilai, golongan ini
berasumsi bahwa ilmuwan telah mengetahui ekses-ekses yang terjadi apabila ilmu
dan teknologi disalahgunakan.
Rangkaian pengembangan ilmu dan teknologi yang dimulai dengan : penelitian
dasar, penelitian terapan, pengembangan teknologi dan penerapan teknologi, mau
tidak mau harus dilanjutkan dengan evaluasi ethis-politis-religius.
4)
Kemiskinan
Kemiskinan
lazimnya dilukiskan sebagai kurangnya pendapat untuk memenuhi kebutuhan hidup
yang pokok, dikatakan berada di bawah garis kemiskinan apabila pendapatan tidak
cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, pakaian,
tempat berteduh, dll.
Garis kemiskinan, yang menentukan batas minimum pendapatan yang diperlukan
untuk memenuhi kebutuhan pokok, bisa dipengaruhi oleh tiga hal :
1. Persepsi
manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan
2. Posisi
manusia dalam lingkungan sekitar
3. Kebutuhan
objektif manusia untuk bisa hidup secara manusiawi.
Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan di pengaruhi oleh
tingkat pendidikan, adat-istiadat, dan sistem nilai yang dimiliki. Dalam hal
ini garis kemiskinan dapat tinggi atau rendah. Terhadap posisi manusia dalam
lingkungan sosial, bukan ukuran kebutuhan pokok yang menentukan, melainkan
bagaimana posisi pendapatannya ditengah-tengah masyarakat sekitarnya. Kebutuhan
objektif manusia untuk bisa hidup secara manusiawi ditentukan oleh komposisi
pangan apakah bernilai gizi cukup dengan nilai protein dan kalori cukup sesuai
dengan tingkat umur, jenis kelamin, sifat pekerjaan, keadaan iklim dan
lingkungan yang dialaminya.
Atas dasar ukuran ini maka mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan memiliki
ciri-ciri sebagai berikut :
a. Tidak
memiliki faktor produksi sendiri seperti tanah, modal, keterampilan, dsb;
b. Tidak memiliki
kemungkinan untuk memperoleh asset produksi dengan kekuatan sendiri, seperti
untuk memperoleh tanah garapan atau modal usaha;
c. Tingkat
pendidikan mereka rendah, tidak sampai tamat sekolah dasar karena harus
membantu orang tua mencari tambahan penghasilan;
d.
Kebanyakan tinggal di desa sebagai pekerja bebas ( self employed ), berusaha
apa saja;
e. Banyak
yang hidup di kota berusia muda, dan tidak mempunyai keterampilan.
Kemiskinan menurut orang lapangan ( umum ) dapat dikategorikan kedalam tiga
unsure :
1.
Kemiskinan yang disebabkan handicap badaniah ataupun mental seseorang.
2.
Kemiskinan yang disebabkan oleh bencana alam.
3.
Kemiskinan buatan.
Kalau kita menganut teori fungsionalis dari statifikasi ( tokohnya Davis ),
maka kemiskinanpun memiliki sejumlah fungsi yaitu :
1) Fungsi
ekonomi : Penyediaan tenaga untuk pekerjaan tertentu, menimbulkan dana sosial,
membuka lapangan kerja baru dan memanfaatkan barang bekas ( masyarakat pemulung
).
2) Fungsi
sosial : Menimbulkan altruism ( kebaikan spontan ) dan perasaan, sumber
imajinasi kesulitan hidup bagi si kaya, sebagai ukuran kemajuan bagi kelas lain
dan merangsang munculnya badan amal.
3) Fungsi
kultural : Sumber inspirasi kebijaksanaan teknokrat dan sumber inspirasi
sastrawan dan memperkaya budaya saling mengayomi antar sesama manusia.
4) Fungsi
politik : berfungsi sebagai kelompok gelisah atau masyarakat marginal untuk
musuh bersaing bagi kelompok lain.
Ilmu pengetahuan pada dasarnya memiliki tiga komponen
penyangga tubuh pengetahuan yang disusunnya yaitu: ontologis, aksiologis, dan
epistemologis. Ontologis dapat diartikan hakikat apa yang dikaji oleh
pengetahuan, sehingga jelas ruang lingkup wujud yang menjadi objek
penelaahannya. Aksiologis ialah asas menggunakan ilmu pengetahuan atau fungsi
dari ilmu pengetahuan. Epistemologis merupakan cara bagaimana materi
pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi tubuh pengetahuan. Ketiga komponen
tersebut erat kaitannya dengan nilai atau moral.



