Popular Post

MANUSIA DAN KEADILAN

By : Praditya Ivan
WASIT





         Setiap Manusia pasti ingin diperlakukan secara adil entah dari masalah pekerjaan, permainan atau pribadi. Foto diatas adalah salah satu orang yang harus bersikap adil dilapangan yaitu Wasit.
Wasit adalah orang yang menentukan jalannya pertandingan dan harus bersikap adil. entah itu pada saat pemain sedang melanggar peraturan, menyelengkat kaki lawan dll.

          Wasit juga harus bisa melihat kondisi apakah pelanggaran yang dilakukan itu harus mendapat kartu kuning,merah atau tidak mendapat kartu. pleh karna itu wasit harus adil agar para pemain tidak merasa kecewa karna wasit merupakan peran penting dilapangan jika wasit mengatakan pelanggaran maka  pelanggaran, atau bisa dibilang Keputusan Wasit Adalah Mutlak. oleh karna itu Wasit Harus Adil.

MANUSIA DAN PENDERITAAN

By : Praditya Ivan

MANUSIA DAN PENDERITAAN


                  Semua Manusia Pasti pernah merasakan penderitaan. seperti contoh diatas seorang wanita yang sudah cukup berumur berpanas panasan dijalan hanya untuk mencari rezeki. bisa kita bayangkan ibu itu seharusnya menikmati masa tua nya dengan duduk dirumah dan menunggu anaknya yang sedang bekerja pulang. Tapi ibu itu malah sebaliknya dia berpanas panasan di usianya yang terbilang sudah tidak muda lagi untuk mencari sesuap nasi. Betapa malangnya nasib ibu ini menderita dijalanan.

MANUSIA DAN KEINDAHAN

By : Praditya Ivan
MENYATU DENGAN ALAM



              Foto diatas adalah tentang keindahan Alam yang bisa kita manfaatkan menjadi Wisata  sewaktu Liburan. sehingga kita bisa merasa senang seolah olah menyatu dengan alam karna itu kita dapat lebih menikmati keindahan alam dengan cara lebih membaur dengan alam.
Di indonesia banyak keindahan alam seperti kawah gunung, air terjun dll. Tapi ada juga keindahan bawah laut seperti foto diatas. Seharusnya masyarakat indonesia bisa melestarikannya bukan malah merusaknya. karna menurut saya aspek keindahan dapat indah karna manusialah yang menjaganya. jika manusia tidak menjaga malah merusaknya seperti mengambil ikan dengan bahan kimia, merusak terumbu karang dan lain lain. akan mengakibatkan aspek keindahan yang dimiliki oleh alam tersebut rusak. jadi manusia berpengaruh atas keindahan Alam disekitar maksudnya adalah Manusia dan Keindahan Alam Menyatu jika manusianya rusak maka alam pun ikut rusak.

MANUSIA DAN CINTA KASIH

By : Praditya Ivan
IBU

          setiap manususia memiliki perasaan kasih dan sayang entah itu kepada keluarga, sahabat, teman ataupun pacar. tapi orang yang saya cintai bukan pacar saya (Jomblo :(  wkwk) tapi adalah ibu saya.
bagi saya ibu adalah segalanya. Alasan mengapa saya mencintai, menyayangi ibu? Tidak, tidak ada alasan mengapa saya sangat mencintai ibu. 

            oh maaf Sebenarnya ada satu alasan yaitu karna saya CINTA ibu saya.
Ada Pepatah yang mengatakan surga berada dibawah telapak kaki ibu. Ya saya setuju  karna jika saya bayangkan ibu saya rela berkorban tanpa ada habisnya. sewaktu bapak saya mencari kerja beliau juga membantu, saat dirumah beliau juga melakukan tugas rumah. lihat betapa mulianya seorang ibuku ini. dia berjuang tanpa lelah Bekerja untuk membiayai sekolah anak anak nya. 

         Wajar saja jika ada pepatah yang mengatakan seperti itu karna memang dimataku ibuku adalah seorang pahlawan yang sangat amat mulia. Bahkan pada saat saya sedang mengerjakan tugas ini baru saja ibu saya memanggil saya, menuruh saya untuk makan :) .

           Terimakasih ibu engkau sudah bersedia merepotkan dirimu untuk aku. 
Tapi Saya belum bisa membahagiakan ibu saya ( Tugas Sekalian Curhat wkwkwk) karna saya masih belum bisa memenuhi apa yang ibu saya minta tapi suatu hari nanti saya akan memenuhinya jadi Ya ALLAH Panjang kanlah umur Orangtua hamba IBU hamba orangtua hamba aamiin.

           karna saya ingin membahagiakan mereka terutama ibu hamba yang melahirkan saya, membesarkan saya. bahkan saya sangat ingat ketika ibu saya menggendong saya meskipun saya sudah kelas 3 SD. saya masih ingat kasih sayang yang ibu berikan karna saya yakin kasih ibu sepanjang masa. Banyak pengorbanan yang ia lakukan hanya demi saya bahkan yang paling saya ingat ketika ibu saya menunggu saya didepan kamar mandi ketika saya buang air besar. Seluruh pengorbanan ibu tidak akan terbalaskan oleh apapun meskipun nanti saya bisa memenuhi keinginannya. Karna itu saya (Praditya Achmad Ifandi ) Amat Sangat Mencintai dan menyayangi ibu saya. 

THANKS MOM

PRASANGKA DISKRIMINASI DAN ETNOSENTRISME

By : Praditya Ivan
 Main Map


1.  PERBEDAAN PRASANGKA DAN DISKRIMINASI
          Sikap yang negatif  terhadap sesuatu, disebut prasangka. Walapun dapat kita garis bawahi bahwa prasangka dapat juga dalam pengertian positif. tulisan ini lebih banyak membicarakan prasangka dalam pengertian negatif. tidak sedikit orang yang berprasangka, namun banyak juga orang orang yang lebih sukar untuk berprasangka.
         Namun demikian belum jelas benar ciri ciri kepribadian mana yang membuat seseorang mudah berprasangka. mengapa? Karena orang macam ini bersifat dan bersikap kritis.sesorang yang mempunyai prasangka rasial , biasanya bertindak diskriminasi terhadap ras yang diprasangkainya.  Cina sebgai kelompok minoritas, sering menjadi sasaran rasial, walaupun secara yuridis telah menjadi warga negara indonesia.
        Sikap berprasangka jelas tidak adil sebab sikap yang diambil hanya berdasarkan pada pengalaman atau apa yang didengar. lebih lebih lagi bila sikap berprasangka itu muncul dari jalan fikiran sepintas.

1.1. SEBAB-SEBAB TIMBULNYA PRASANGKA DAN DISKRIMINASI

a.       Berlatar belakang sejarah
Orang-orang kulit putih Amerika Serikat berprasangka negatif terhadap orang-orang Negro, berlatar
 belakang pada sejarah masa lampau, bahwa orang-orang kulit putih sebagai tuan dan orang-orang 
Negro berstatus sebagai budak.
b.      Dilatarbelakangi oleh perkembangan sosio-kultural dan situasional
Suatu prasangka muncul dan berkembang dari suatu individu terhadap individu lain, atau terhadap 
kelompok sosial tertentu manakala terjadi penurunan status atau terjadi Pemutusan Hubungan Kerja 
(PHK) oleh pimpinan Perusahaan terhadap karyawannya. 
c.       Bersumber dari faktor kepribadian
Keadaan frustasi dari beberapa orang atau kelompok sosial tertentu merupakan kondisi yang cukup
 untuk menimbulkan tingkah laku agresif.
d.      Berlatar belakang dari perbedaan keyakinan, kepercayaan dan agama
            Bisa ditambah lagi dengan perbedaan pandangan politik, ekonomi dan ideologi. Prasangka yang
            berakar dari hal-hal tersebut di atas dapat dikatakan sebagai suatu prasangka yang bersifat universal.

1.2. DAYA UPAYA UNTUK MENGURANGI/MENGHILANGKAN PRASANGKA DAN 
       DISKRIMINASI


a.       Perbaikan kondisi sosial ekonomi
Pemerataan pembangunan dan usaha peningkatan pendapatan bagi warga Negara Indonesia yang masih tergolong di bawah garis kemiskinan akan mengurangi adanya kesenjangan-kesenjangan sosial antar si kaya dan si miskin.
b.      Perluasan kesempatan belajar
Adanya usaha-usaha pemerintah dalam perluasan kesempatan belajar bagi seluruh warganegara Indonesia, paling tidak dapat mengurangi prasangka bahwa program pendidikan, terutama pendidikan tinggi hanya dapat dinikmati oleh kalangan masyarakat menengah dan kalangan atas.
c.      Sikap terbuka dan sikap lapang
            Harus selalu kita sadari bahwa berbagai tantangan yang datang dari luar ataupun yang datang dari
            dalam negeri.

        2. ETNOSENTRISME

              Setiap suku bangsa atau ras tertentu akan memiliki ciri khas kebudayaan, yang sekaligus menjadi kebangaan mereka. Suku bangsa, ras tersebut dalam kehidupansehari hari bertingkah laku sejalan dengan norma-norma, nilai-nilai yang terkandung dan tersirat dalam kebudayaan. Suku Bangsa tersebut menganggap kebudayaan mereka sekaligus sebagai salah satu yang prima, riil, logis sesuai dengan kodrat alam dan sebaginya. hal hal tersebut dikenal sebagai ETNOSENTRISME, Yaqitu kecenderungan yang menggangap nilai dan norma norma kebudayaannya sendiri sebagai tolak ukur untuk menilai dan membedakannya dengan kebudayaan lain.
                 Etnosentrisme nampaknya merupakan gejala sosial yang universal, dan sikap yang demikian biasanya dilakukan secara tidak sadar.dengan demikian etnosentrisme mrupakan kecenderungan tak sadar untuk mengiterpresikanatau menilai kelompok lain dengan tolak ukur kebudayaannyasendiri.Sikap etnosentrisme dalam tingkah laku agak canggung, tidak luwes.akibatnya etnosentrisme penampilan yang etnosentrik.

AGAMA DAN MASYARAKAT

By : Praditya Ivan
Mind Map

AGAMA DAN MASYARAKAT
 
        Kaitan agama  dengan masyarakat banyak dibuktikan oleh pengetahuan agama yang meliputi oleh pengetahuan agama yang meliputi penulisan sejarah dan figur nabi dalam mengubah kehidupan, tentang Tuhan
dan kesadaraan akan maut menimbulkan religi, dan sila Ketuhanan Yang Maha Esa
sampai pada pengalaman agamanya para tasauf.
          Peraturan agama dalam masyarakat penuh dengan hidup, menekankan pada hal hal yang normatif atau menunjuk kepada hal hal hal yang sebaiknya dan seharusnya dilakukan.

1. FUNGSI AGAMA
     Untuk mendiskusikan fungsi agama dalam masyarakat ada tiga aspek penting yang harus selalu dipelajari, yaitu kebudayaan, sistem sosial, dan kepribadian. ketiga aspek tersebut merupakan kompleks fenomena sosial terpadu yang pengaruhnya dapat diamati dalam perilaku manusia.
Toeri fungsional dalam melihat kebudayaan pengertiannya adalah, bahwa kebudayaan itu berwujud suatu
kompleks dari ide-ide, gagasan, niali-nilai, norma-norma, peraturan dan sistem sosial yang terdiri dari 
aktivitas-aktivitas manusia-manusia yang berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan lain, setiap 
saat mengikuti pola-pola tertentu berdasarkan adat tata kelakuan, bersifat kongkret terjadi di sekeliling. 

        Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana masalah fungsional dalam konteks teori fungsional 
kepribadian dan sejauh mana agama mempertahankan keseimbangan pribadi melakukan fungsinya.
 Kepribadian dalam hal ini merupakan suatu dorongan, kebutuhan yang kompleks, kecenderungan bertindak,
 dan memberikan tanggapan serta nilai dan sebagainya yang sistematis.

        Teori fungsionalisme melihat agama sebagai penyebab sosial yang dominan dalam terbentuknya lapisan sosial, perasaan agama, dan termasuk konflik sosial. Agama dipandang sebagai lembaga sosial yang menjawab kebutuhan mendasar yang dapat dipenuhi kebutuhan nilai-nilai duniawi.

          Jadi, Seorang fungsionalis memandang agama sebagai petunjuk bagi manusia untuk mengatasi diri dan ketidakpastian, ketidakberdayaan, dan kelangkaan dan agama dipandang sebagai mekanisme penyesuaian yang paling dasar terhadap unsur-unsur tersebut.

          Fungsi agama dalam pengukuhan nilai nilai, bersumber pada kerangka acuan yang bersifat sakral, maka normanya pun dikukuhkan dengan sanksi sanksi sakral.

           Fungsi agama dibidang sosial adalah fungsi penentu. dimana agama menciptakan suatu ikatan bersama, baik diantara anggota masyarakat maupun dalam kewajiban sosial yang membantu mempersatukan mereka

          Fungsi agama sebagai sosialisasi individu ialah individu, pada saat dia menjadi dewasa memerlukan suatu sistem nilai sebagai semacam tuntunan umum untuk (mengarahkan) aktifitasnya dalam masyarakat, dan berfungsi sebagai tujuan akhir pengembangannya
         
            Masalah Fungsionalisme agama dapat dianalisis lebih mudah pada komitmen agama. dimensi komitmen agama, menurut Roland Robertson (1984), diklasifikasikan berupa keyakinan, Praktek, pengalaman,pengetahuan dan konsekuensi.
A. Dimensi keyakinan mengandung perkiraan atau harapan bahwa orang yang religius menganut pandangan
     teologis tertentu.
B.Praktek Agama mencakup perbuatan perbuatan memuja dan berbakti, yaitu perbuatan untuk 
    melaksanakan komitmen agama secara nyata.
C. Dimensi Pengalaman memperhitungkan fakta, bahwa semua agama mempunyai perkiraan tertentu
D. Dimensi pengetahuan dikaitkan dengan perkiraan, bahwa orang - orang yang bersikap religius akan
     memiliki informasi ajaran pokok keyakinan dan upacara keagamaan, kitab suci, dan tradisi keagamaan
     mereka
E. Dimensi konsekuensi dari komitmen religius berbeda dengan tingkah laku perseorangan dan pembentukan
     citra pribadinya.

2. PELEMBAGAAN AGAMA

     Agama begitu universal, permanen (langgeng), dan mengatur dalam kehidupan, sehingga bila tidak 
memahami agama, akan sukar memahami masyarakat.

      Kaitan agama dengan masyarakat dapat mencerminkan tiga tipe, meskipun tidak menggambarkan 
sebenarnya secara utuh (Elizabeth K. Nottingham, 1954).
  
A. Masyarakat yang Terbelakang dan Nilai-Nilai yang Sakral 

           Masyarakat tipe ini kecil, terisolasi, dan terbelakang. Anggota masyarakat menganut agama yang 
     sama.Oleh karenanya keanggotaan mereka dalam masyarakat dan dalam kelompok keagamaan adalah   
     sama.

B.  Masyarakat-Masyarakat Praindustri yang Sedang Berkembang
  
          Keadaan masyarakatnya tidak terisolasi, ada perkembangan teknologi yang lebih tinggi dari pada tipe 
      pertama. Agama memberikan arti dan ikatan kepada sistem nilai dalam tiap masyarakat ini, tetapi pada
      saat yang sama lingkungan yang sakral dan yang sekular itu sedikit banyaknya masih dapat dibedakan.

      Pendekatan rasional terhadap agama dengan penjelasan ilmiah biasanya akan mengacu dan berpedoman 
      pada tingkah laku yang sifatnya ekonomis dan teknologis, dan tentu kurang baik.

            Bila sifat rasional penuh dalam membahas agama yang ada pada manusia, maka berarti bersifat  
nonagama. Karena itu pendekatan dalam memandang agama hanya sebagai suatu gejala (fenomena) 
atau kejadian. Ilmuwan yang menganut pandangan ini, juga akhirnya kecewa mengetahui adanya 
manusia dengan sifat nonrasional mutlak atau terus-menerus nonrasional.
        Bermula dari para ahli agama yang mempunyai pengalaman agama dan adanya fungsi deferesiasi internal dan stratifikasi yang ditimbulkan oleh perkembangan agama, maka tampillah organisasi keagamaan yang terlembaga dan fungsinya adalah mengolah masalah keagamaan.
C. Masyarakat-Masyarakat Industri Sekular
 
        Masyarakat industri bercirikan dinamika dan semakin berpengaruh terhadap semua aspek 
kehidupan, sebagian besar penyesuaian-penyesuaian terhadap alam fisik, tetapi yang penting adalah
 penyesuaian-penyesuaian dalam hubungan-hubungan kemanusiaan sendiri.
        Pada umumnya kecenderungan sekularisasi mempersempit ruang gerak kepercayaan-
kepercayaan dan pengalaman-pengalaman keagamaan yang terbatas pada aspek yang lebih kecil 
dan bersifat khusus dalam kehidupan masyarakat dan anggota-anggotanya.

        Pernyataan diatas menimbulkan pertanyaan, apakah masyarakat sekular akan mampu secara 
efektif mempertahankan ketertiban umum tanpa kekerasaninstitusional apabilah pengaruh agama 
telah semakin berkurang.

ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI DAN KEMISKINAN

By : Praditya Ivan
ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI DAN KEMISKINAN
Ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemiskinan merupakan bagian-bagian yang tidak dapat dibebaskan dan dipisahkan dari suatu sistem yang berinteraksi,interelasi, interdependensi, dan ramifikasi (percabangannya). Pengertian ilmu itu tersusun dari pengetahuan secara teratur, yang diperoleh dengan pangkal tumpuan (objek) tertentu dengan sistematis, metodis, rasional/logis, empiris, umum, dan akumulatif.
Sedangkan pengertian pengetahuan menurut pandangan Aristoteles merupakan hal yang dapat diinderai dan dapat merangsang budi. Sehingga ilmu dan pengetahuan dapat diartikan sebagai pengalaman indera dan batin. Kemiskinan merupakan tema sentral dari perjuangan bangsa, sebagai perjuangan yang akan memperoleh kemerdekaan bangsa dan motivasi fundamental dari cita-cita menciptakan masyarakat adil dan makmur.
1) Ilmu Pengetahuan
            Pengertian pengetahuan sebagai istilah filsafat tidaklah sederhana karena bermacam-macam pandangan dan teori (epistemologi), diantaranya pandangan Aristoteles, bahwa pengetahuan merupakan pengetahuan yang dapat diinderai dan dapat merangsang budi. Menurut Decartes ilmu pengetahuan merupakan serba budi; oleh Bacon dan David Home diartikan sebagai pengalaman indera dan batin; menurut Immanuel Kant pengetahuan merupakan persatuan antara budi dan pengalaman; dan teori Phyroo mengatakan, bahwa tidak ada kepastian dalam pengetahuan.
            Banyaknya teori dan pendapat tentang pengetahuan dan kebenaran mengakibatkan suatu definisi ilmu pengetahuan akan mengalami kesulitan. Sebab, membuat suatu definisi dari definisi ilmu pengetahuan yang dikalangan ilmuwan sendiri sudah ada keseragaman pendapat, hanya akan terperangkap dalam tautologies (pengulangan tanpa membuat kejelasan) dan pleonasme atau mubazir saja.
            Untuk mencapai suatu pengetahuan yang ilmiah dan objektif diperlukan sikap yang bersifat ilmiah. Sikap yang bersifat ilmiah itu meliputi empat hal :
a. Tidak ada perasaan yang bersifat pamrih sehingga mencapai pengetahuan ilmiah yang objektif.
b. Selektif, artinya mengadakan pemilihan terhadap problema yang dihadapi supaya didukung oleh fakta atau gejala, dan mengadakan pemilihan terhadap hipotesis yang ada.
c. Kepercayaan yang layak terhadap kenyataan yang tak dapat diubah maupun terhadap alat indera dan budi yang digunakan untuk mencapai ilmu.
d. Merasa pasti bahwa setiap pendapat, teori, maupun aksioma terdahulu telah mencapai kepastian, namun masih terbuka untuk dibuktikan kembali.
2) Teknologi
            Dalam konsep yang pragmatis dengan kemungkinan berlaku secara akademis dapatlah dikatakan, bahwa ilmu pengetahuan ( body of knowledge ), dan teknologi sebagai suatu seni ( state of art ) yang mengandung pengertian berhubungan dengan proses produksi; menyangkut cara bagaimana berbagai sumber, tanah, modal, tenaga kerja dan keterampilan dikombinasikan untuk merealisasi tujuan produksi.
            Teknologi memperlihatkan fenomenanya dalam masyarakat sebagai hal impersonal dan memiliki otonomi mengubah setiap bidang kehidupan manusia menjadi lingkup teknis.
            Fenomena teknik pada masyarakat kini, menurut Sastrapratedja ( 1980 ) memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Rasionalitas, artinya tindakan spontak oleh teknik diubah menjadi tindakan yang direncanakan dengan perhitungan rasional.
b. Artifisialitas, artinya selalu membuat sesuatu yang buatan tidak alamiah.
c. Otomatisme, artinya dalam hal metode, organisasi dan rumusan dilaksanakan serba otomatis.
d. Teknis berkembang pada suatu kebudayaan.
e. Monisme, artinya semua teknik bersatu, saling berinteraksi dan saling bergantung.
f. Universalisme, artinya teknik melampaui batas-batas kebudayaan dan ediologi, bahkan dapat menguasai kebudayaan.
g. Otonomi, artinya teknik berkembang menurut prinsip-prinsip sendiri.
            Luasnya bidang teknik, digambarkan oleh Ellul sebagai berikut :
1. Teknik meliputi bidang ekonomi, artinya teknik mampu menghasilkan barang-barang industri.
2. Teknik meliputi bidang organisasi seperti administrasi, pemerintahan, manajemen, hukum dan militer.
3. Teknik meliputi bidang manusiawi, seperti pendidikan, kerja, olahraga, hiburan dan obat-obatan.
            Teknik-teknik manusiawi yang dirasakan pada masyarakat teknologi, terlihat dari kondisi kehidupan manusia itu sendiri.
            Dampak teknik itu sendiri bagi manusia sudah dirasakan dan fenomenanya nampak. Seperti, anggapan para ahli teknik bahwa manusia hanyalah mitos abstrak, manusia mesin ( manusia mengadaptasikan diri kepada mesin ), penerapan teknik memecah belah manusia ( tidak ada kesempatan mengembangkan kepribadiannya ), timbul kemenangan pada alam tak sadar, simbol-simbol tradisional diganti dengan teknik, terbentuknya manusia-massa ( gaya hidup dibentuk oleh iklan ) dan nampak teknik sudah mendominasi kehidupan manusia secara menyeluruh.
            Saat ini sudah dikonstantasi, bahwa negara-negara teknologi maju telah memasuki tahap superindustrialisme, melalui inovasi teknologis tiga tahap :
a) Ide kreatif
b) Penerapan praktisnya
c) Difusi atau penyebarluasan dalam masyarakat.
3) Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Nilai
            Penerapan ilmu pengetahuan khusunya teknologi sering kurang memperhatikan masalah nilai, moral atau segi-segi manusiawinya.
            Masalah nilai kaitannya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi ini, menyangkut perdebatan sengit dalam menduduk perkarkan nilai dalam kaitannya dengan ilmu dan teknologi. Sehingga kecenderungan sekarang ada dua pemikiran yaitu : yang menyatakan ilmu bebas nilai dan yang menyatakan ilmu tidak bebas nilai.
            Ilmu dapatlah dipandang sebagai produk, sebagai proses, dan sebagai paradigma etika ( Jujun S. Suriasumantri, 1984 ).
            Apa yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan seperti sekarang ini, merupakan hasil penalaran ( rasio ) secara objektif. Ilmu sebagai produk artinya ilmu diperoleh dari hasil metode keilmuwan yang diakui secara umum dan universal sifatnya.
            Istilah ilmu di atas, berbeda dengan istilah pengetahuan. Ilmu adalah diperoleh melalui kegiatan metode ilmiah atau epistemologi. Jadi, epistemologi merupakan pembahasan bagaimana mendapatka pengetahuan. Metode ilmiah adalah kegiatan menyusun tubuh pengetahuan yang bersifat logis, penjabaran hipotesis dengan deduksi dan verifikasi atau menguji kebenarannya secara faktual; Sehingga kegiatannya disingkat menjadi logis-hipotesis-verifikasi atau deduksi-hipotesis-verifikasi. Sedangkan pengetahuan adalah pikiran atau pemahaman di luar atau tanpa kegiatan metode ilmiah, sifatnya dapat dogmatis, banyak spekulasi dan tidak berpijak pada kenyataan empiris.
            Ilmu pengetahuan pada dasarnya memiliki tiga komponen penyangga tubuh pengetahuan yang disusunnya yaitu : ontologis, epistemologis dan aksiologis. Epistemologis seperti diuraikan di muka, hanyalah merupakan cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi tubuh pengetahuan. Ontologis dapat diartikan hakikat apa yang dikaji oleh pengetahuan, sehingga jelas  ruang lingkup wujud yang menjadi objek penelaahannya. Komponen Aksiologis adalah asas menggunakan ilmu pengetahuan atau fungsi dari ilmu pengetahuan.
            Komponen ontologis kegiatannya adalah menafsirkan hikayat realitas yang ada, sebagaimana adanya ( das sein ), melalui desuksi-desuksi yang dapat diuju secara fisik.
            Komponen epistemologis berkaitan dengan nilai atau moral pada saat proses logis-hipotesis-verifikasi.
            Komponen aksiologis artinya lebih lengket dengan nilai atau moral, di mana ilmu harus digunakan dan dimanfaatkan demi kemaslahatan manusia.
            Pembicaraan selanjutnya adalah kaitan teknologi dan nilai. Namun sebelumnya, perlu menelusuri kaitan ilmu dan teknologi sebelum memahami kaitan teknologi dan nilai. Seperti kita maklumi, selain ilmu dasar ada juga ilmu terapan. Tujuan ilmu terapan ini adalah untuk membantu manusia dalam memecahkan masalah-masalah praktis, sekaligus memenuhi kebutuhannya.
            Kaitan ilmu dan teknologi dengan nilai atau moral, berasal dari ekses penerapan ilmu dan teknologi sendiri. Dalam hal ini sikap ilmuwan dibagi menjadi dua golongan :
1) Golongan yang menyatakan ilmu dan teknologi adalah bersiat netral terhadap nilai-nilai baik secara ontologism maupun secara aksiologis, soal penggunaannya terserah kepada si ilmuwan itu sendiri, apakah digunakan untuk tujuan baik atau tujuan buruk.
2) Golongan yang menyatakan bahwa ilmu dan teknologi itu bersifat netral hanya dalam batas-batas metafisik keilmuwan, sedangkan dalam penggunaan dan penelitiannya harus berlandaskan pada asas-asas moral atau nilai-nilai, golongan ini berasumsi bahwa ilmuwan telah mengetahui ekses-ekses yang terjadi apabila ilmu dan teknologi disalahgunakan.
            Rangkaian pengembangan ilmu dan teknologi yang dimulai dengan : penelitian dasar, penelitian terapan, pengembangan teknologi dan penerapan teknologi, mau tidak mau harus dilanjutkan dengan evaluasi ethis-politis-religius.
4) Kemiskinan
            Kemiskinan lazimnya dilukiskan sebagai kurangnya pendapat untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok, dikatakan berada di bawah garis kemiskinan apabila pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, pakaian, tempat berteduh, dll.
            Garis kemiskinan, yang menentukan batas minimum pendapatan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pokok, bisa dipengaruhi oleh tiga hal :
1. Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan
2. Posisi manusia dalam lingkungan sekitar
3. Kebutuhan objektif manusia untuk bisa hidup secara manusiawi.
            Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan di pengaruhi oleh tingkat pendidikan, adat-istiadat, dan sistem nilai yang dimiliki. Dalam hal ini garis kemiskinan dapat tinggi atau rendah. Terhadap posisi manusia dalam lingkungan sosial, bukan ukuran kebutuhan pokok yang menentukan, melainkan bagaimana posisi pendapatannya ditengah-tengah masyarakat sekitarnya. Kebutuhan objektif manusia untuk bisa hidup secara manusiawi ditentukan oleh komposisi pangan apakah bernilai gizi cukup dengan nilai protein dan kalori cukup sesuai dengan tingkat umur, jenis kelamin, sifat pekerjaan, keadaan iklim dan lingkungan yang dialaminya.
            Atas dasar ukuran ini maka mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Tidak memiliki faktor produksi sendiri seperti tanah, modal, keterampilan, dsb;
b. Tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh asset produksi dengan kekuatan sendiri, seperti untuk memperoleh tanah garapan atau modal usaha;
c. Tingkat pendidikan mereka rendah, tidak sampai tamat sekolah dasar karena harus membantu orang tua mencari tambahan penghasilan;
d. Kebanyakan tinggal di desa sebagai pekerja bebas ( self employed ), berusaha apa saja;
e. Banyak yang hidup di kota berusia muda, dan tidak mempunyai keterampilan.
            Kemiskinan menurut orang lapangan ( umum ) dapat dikategorikan kedalam tiga unsure :
1. Kemiskinan yang disebabkan handicap badaniah ataupun mental seseorang.
2. Kemiskinan yang disebabkan oleh bencana alam.
3. Kemiskinan buatan.
            Kalau kita menganut teori fungsionalis dari statifikasi ( tokohnya Davis ), maka kemiskinanpun memiliki sejumlah fungsi yaitu :
1) Fungsi ekonomi : Penyediaan tenaga untuk pekerjaan tertentu, menimbulkan dana sosial, membuka lapangan kerja baru dan memanfaatkan barang bekas ( masyarakat pemulung ).
2) Fungsi sosial : Menimbulkan altruism ( kebaikan spontan ) dan perasaan, sumber imajinasi kesulitan hidup bagi si kaya, sebagai ukuran kemajuan bagi kelas lain dan merangsang munculnya badan amal.
3) Fungsi kultural : Sumber inspirasi kebijaksanaan teknokrat dan sumber inspirasi sastrawan dan memperkaya budaya saling mengayomi antar sesama manusia.
4) Fungsi politik : berfungsi sebagai kelompok gelisah atau masyarakat marginal untuk musuh bersaing bagi kelompok lain.
Ilmu pengetahuan pada dasarnya memiliki tiga komponen penyangga tubuh pengetahuan yang disusunnya yaitu: ontologis, aksiologis, dan epistemologis. Ontologis dapat diartikan hakikat apa yang dikaji oleh pengetahuan, sehingga jelas ruang lingkup wujud yang menjadi objek penelaahannya. Aksiologis ialah asas menggunakan ilmu pengetahuan atau fungsi dari ilmu pengetahuan. Epistemologis merupakan cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi tubuh pengetahuan. Ketiga komponen tersebut erat kaitannya dengan nilai atau moral.

- Copyright © This My Life - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -